SELAMATKAN ORANGUTAN, FOKUSLAH KE AKAR MASALAH
Siaran Pers : untuk disiarkan segera pada tanggal 15 Juli 2010.
![]() |
Jakarta & Denpasar(15/7). Centre for Orangutan Protection (COP) dan Jakarta Animal Aid Network (JAAN) mendesak Pemerintah Indonesia untuk fokus pada akar permasalahan yang saat ini telah menyebabkan orangutan berada di ambang kepunahan, yakni pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit.
“Orangutan membutuhkan tindakan nyata untuk menyelamatkan mereka dari tindak kejahatan dan kekejaman, bukan permainan publikasi untuk menciptakan kesan bahwa permasalahan telah diatasi dengan baik,” kata Hardi Baktiantoro, aktivist COP di sela – sela acara International Workshop on Orangutan Conservation di Denpasar. |
|---|
Dalam 3 tahun terakhir ini, COP mendokumentasikan bagaimana perusahaan – perusahaan kelapa sawit terus membabat habitat orangutan dan mengancam keselamatan orangutan. Kejahatan dan kekejaman terhadap orangutan semakin rapi dan terorganisir seiring dengan diadopsinya kriteria – kriteria dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) maupun Private Sector Partnership.
“Semuanya terlihat semakin baik dan ramah lingkungan dengan dialokasikannya hutan – hutan konservasi di setiap konsesi perkebunan, pembuatan koridor – koridor satwa liar dan pemasangan papan – papan sosialisasi. Tapi itu sama sekali tidak menolong jika pembabatan habitat orangutan terus dilakukan. Hilangnya hutan, berarti hilangnya tempat tinggal dan sumber pakan bagi orangutan. 1200 orangutan yang kini terduduk di kandang – kandang Pusat Rehabilitasi adalah buktinya,” lanjut Hardi Baktiantoro.
Sejak bulan Januari hingga Juli 2010, COP telah mengevakuasi 15 orangutan. Sebagian besar berasal dari perkebunan kelapa sawit . COP juga memiliki daftar tunggu orangutan yang harus dievakuasi namun belum dapat dilakukan karena Pusat – Pusat Rehabilitasi yang dikelola oleh BOSF, International Animal Rescue dan Orangutan Foundation sangat selektif dalam menerima orangutan baru karena keterbatasan daya tampung daya tampung.
“Pilihannya hanya dua: Save or Delete! Jika ingin menyelamatkan orangutan, Pemerintah Indonesia harus menghentikan pembabatan hutan untuk perkebunan kelapa sawit. Jika ingin membunuhnya, lanjutkan saja menipu diri bahwa upaya – upaya konservasi orangutan telah sedang menuju kesuksesan.” kata Hardi Baktiantoro.
Centre for Orangutan Protection adalah sebuah perkumpulan yang bekerja secara langsung melindungi orangutan dari kejahatan dan kekejaman. Kami mengumpulkan bukti, mempublikasinya dan jika perlu berkonfrontasi melawan penjahat kehutanan bersama dengan masyarakat Kalimantan.
Informasi lebih lanjut harap menghubungi:
Hardi Baktiantoro di nomor telepon 08121145911 atau email: orangutanborneo@mac.com
English version:
Press Release
Te Be Released Immediately on July 15, 2010
SAVE ORANGUTANS, FOCUS ON ROOT OF THE PROBLEM
Jakarta/Denpasar (15/7). Centre for Orangutan Protection (COP) and Jakarta Animal Aid Network (JAAN) urge the government to remain focus on root of the problem, namely deforestation for palm oil plantations – which has lead orangutans to the edge of extinction.
“Orangutans require real actions which will save them from crimes and atrocities, instead of games of publication which will create wrong sense of completion of the problem,” said Hardi Baktiantoro, an activist of COP, during intervals of International Workshop on Orangutan Conservation in Denpasar.
COP has been documenting palm oil corporations’ constant actions of deforesting orangutans’ habitat and threatening orangutans’ survival for the last three years. Crimes and atrocities against orangutans have been committed more thoroughly and well organized ever since the adoption of criteria of both Roundtable for Sustainable Palm Oil and Private Sector Partnership.
“Everything is suddenly becoming better and environmentally-friendly now with the allocation of conservational forest within every plantation’s concession, establishment of wild animals corridors, and postings of socializing notice boards. However all of them will only go astray if deforestation within orangutans‘ habitat goes at a stand still. Vanished forests will go hand in hand with loss of home and source of food for orangutans. One thousand and two hundred orangutans currently held in rehabilitation centers is the proof, “ continued Hardi Baktiantoro.
Ever since January to July 2010, COP has rescued 15 orangutans, most of which evacuated from palm oil plantations. COP has a ‘waiting list’ for orangutans to be rescued as well. However COP hasn’t been able to execute the rescue operation because rehabilitation centers administered by BOSF, International Animal Rescue, or Orangutan Foundation turn to become very selective due to their overloaded capacity of accommodating confiscated orangutans.
“There are only two options remaining now. Save or Delete! If the choice goes to saving orangutans, then the government must stop deforestation for palm oil plantations. If the option goes to killing them, then you may keep on looking the other way and pretending that orangutans conservational efforts are on the right track,” uttered Hardi Baktiantoro.
Centre for Orangutan Protection is a group which serves direct actions of protecting orangutans from crimes and atrocities. We collect proofs and publish them afterwards. when necessary we, along with communities of Borneo, will frontally fight against forestry criminals.
For further Information, please contact the followings:
Hardi Baktiantoro di nomor telepon 08121145911 atau email: orangutanborneo@mac.com
Leave a Response
You must be logged in to post a comment.



TARGET="_blank">

